Namanya Nuruddin, remaja belia asal DK-I Peunaron, Aceh Timur itu runut bercerita tentang kera sakti. Ia berkisah mitologi Jawa yang bercampur dengan Hindustan. Sesekali ia menggaruk kepala, kemudian melanjutkan cerita. Nuruddin, berkisah tentang kera sakti yang sumber ceritanya berasal dari kisah Hanoman di India yang kemudian diadopsi dalam kisah Jawa era Hindu.

Apa yang dikisahkan olehnya merupakan bagian dari mengupas bahan bacaan yang pernah dibaca oleh peserta training menulis.

“Hanya buku cerita itu yang saya baca. Untuk bulan ini belum satu pun buku, di luar buku paket, yang saya baca,” ujarnya polos. Peristiwa itu terjadi dalam sebuah sesi training menulis di Dayah Enterpreneur ASD, di Gampong Beunyot, Kecamatan Juli, Bireuen, Rabu (20/7/2016).

Dalam kesempatan itu, sebayak 20-an peserta didik di sekolah calon pengusaha tersebut, mengikuti training menulis. Tema yang diangkat sangat umum. Namun bukan bermakna tidak seru sama sekali.

Acapkali tawa pecah. Peserta pelatihan terpingkal-pingkal saat pemateri, ataupun sejawatnya melucu, untuk melawan mata yang seringkali mencoba membawa mereka yang mulai kendor semangatnya ke alam mimpi.

Pada awal pelatihan, semua peserta mengeluh tidak bisa menulis karangan. Penyebabnya karena mereka tidak begitu akrab dengan buku bacaan. dari semua peserta , hanya tiga orang yang mengaku sudah membaca buku pada bulan Juni.

“Susah ya, rupanya untuk menjadi penulis yang handal, kita harus membaca banyak buku. Sungguh ujian yang berat,” keluh Halimah, siswa yang berdomisili di Gampong Beunyot.

Suasana kian menegangkan bagi peserta, ketika bakda zuhur, mereka ditugaskan untuk praktek lapangan. Tiap individu diminta untuk mengamati dan kemudian menuliskan tentang satu objek. Mereka diberikan waktu selama setengah jam.

Teungku Nasruddin bin Ahmad, faouder Aceh Society Development (ASD) yang menaungi dayah tersebut, tersenyum-senyum saat melihat tingkah polah santrinya yang duduk di rerumputan sambil mengamati objek. Seringkali mereka garuk-garuk kepala, menatap langit berawan, memejamkan mata dan tingkah lainnya.menulis

Suasana kembali tegang, saat pengumpulan karya. Tidak ada satupun peserta yang berani menyerahkan. Setelah tutor membujuk, barulah mereka bangun satu persatu untuk membaca karyanya. Sungguh di luar dugaan, 80 persen peserta, mampu menunaikan tugasnya dengan baik. Karya mereka renyah, deskripsinya enak didengar dan pilihan kata-katanya juga gress.

Para dewan guru kaget. Founder ASD tersenyum puas. Tutor apalagi. Rona bahagia memancar di wajah masing-masing. Mendapat pujian demikian, ke 20 siswa itu girang bukan kepalang.

“Sekolah ini, bertujuan mendidik generasi muda untuk bisa menjadi pengusaha yang handal dan smart. Konsepnya berpadu antara pendidikan kejuruan dengan agama. Selain dilatih memahami ekonomi, mereka juga di dorong untuk kreatif dan kompetitif,” ujar Teungku Nasruddin.

Pelatihan menulis, tambah mantan negosiator GAM di Tokyo, merupakan bagian dari menambah wawasan siswa. “Menulis adalah kunci untuk menguasai pasar. Kemenangan bisa diraih ketika generasi bangsa ini mampu berperang narasi dan menang dalam perang tersebut,” katanya.

Tengku Nas–begitu ia akrab disapa– menyadari betul bahwa dunia literasi adalah salah satu senjata untuk memenangkan kompetisi di dunia ini. Untuk itu pihaknya sudah merancang program sekolah menulis di dayah itu. “Siswa di sini akan kami didik untuk bisa menjadi penulis. Fasilitasnya sedang kami siapkan. Mentor menulisnya sudah ada, salah satunya dari teman-teman di aceHTrend. Tiap bulan, akan ada dua kali training menulis,” katanya menjelaskan.

Pelatihan tersebut selesai pukul 23.00 WIB. Dua jam setelah shalat Insya, Teungku Nasruddin tampil dengan materi membangun cita-cita menjadi pengusaha. Beberapa video motivasi diputar. Di tengah gerayap kantuk, ke 20 siswa itu berusaha terus membuka mata, untuk menyerap informasi dari lelaki ahli kopi itu. (acehtrend.co)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *